Qolbu
adalah sesuatu yang halus (al-Lathiifah) bisa juga diartikan sesuatu yang elastis atau lentur, sehingga mudah berubah-rubah. Dan yang halus inilah
hakikat dari diri manusia, karena yang halus ini berkaitan dengan sifat–sifat yang ada pada diri manusia. "Ia"lah yang merasakan kegundahan dan kebahagiaan.
Qolbu bukanlah hati
secara fisik. Melainkan qolbu adalah
sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, nafsu, dan akal yang sifatnya halus/non-fisik, biasa juga dikenal dengan "sisi manusia" yang : ghaib.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
امِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
Terkadang kalau kita melihat acara di TV, kalau membahas 'Supranatural' ke makhluk astral yang biasanya dari golongan bangsa jin. Pada artikel ini kita akan membahas bahwa dalam diri makhluk yang bernama manusiapun terdapat sisi Ghoibnya, ini yang jarang kita bahas.
Blog ini sering menuliskan bahwa manusia sebenarnya adalah makhluk yang sangat canggih, sangat kompleks, di dalam dirinya terdapat sisi fisik : tubuh/jasmani dan sisi bathin : ghoib [puncaknya pada : ruhaniah]. Membahas hal yang ghoib itu sebenarnya sangat luas dan berlapis-lapis, tidak hanya mahkluk dari golongan bangsa jin saja. Tentu saja, hanyalah Allah Yang Maha Ghoib & Yang Maha Tahu akan hal itu.
Dalam filsafat Islam, qalb (Arab: قلب) atau hati merupakan pusat kepribadian manusia. Al-Qur'an banyak menyebutkan tentang "qalb", makna dasarnya menunjukkan bahwa hati selalu dalam keadaan bergerak dan bertransformasi.
Tujuan utama pembahasan seluk beluk manusia adalah agar lebih mengenal Sang Pencipta, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, sehingga kita berharap bisa menjadi makhlukNya yang aḥsanu ‘amalā, di sisi lain kita mengenal Sang Pencipta dari Utusan-Utusan-Nya, dan Utusan-Nya yang paripurna dan paling sempurna adalah Nabi Muhammad, Rasulullah ﷺ.
Apa hubungan akal dan Qolbu ? Apa bedanya ? Dimanakah letaknya ?
Akal Islam [arti : selamat, berserah diri, tunduk, patuh] tidak mengurangi atau menambahi dalam menjalankan misi (tugas) dan visi, kreasinya yang dimotivasi oleh Qolbu (pancaran dari Tuhan).
Dalam menjalankan kreasi hidupnya, Akal didorong oleh Qolbu (niat) menjalankan kehidupan di muka bumi ini. Itulah hakekat tugas kerja Akal & Qolbu sebagai Khalifatul Fil Ardh menjalankan kewajiban-kewajiban (ibadah) sebagai makhluk dari Penciptanya, yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Memaparkan tentang manusia dalam satu buah halaman WEB tentu tidaklah cukup. Terlebih kalau kita membahas terjemahan dan hikmah dari Al-Qur’an sekaligus sunnah-sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Untuk itu pembahasan tentang : "Siapa diri kita sesungguhnya?", Blog ini membagi dalam beberapa judul, agar tidak membosankan dan lebih mudah bagi para pembacanya untuk memahami.
Etimologi dari : Akal & Qolbu
Al-Qur’an diturunkan sacara berangsur-angsur dalam bahasa Arab, tentu terdapat banyak keistimewaan dan hikmah baik yang tersirat di balik hal yang tersurat tersebut.
Bagi kita yang dalam keseharian tidak memakai bahasa Arab, akan lebih baik jika mau mempelajarinya lebih mendalam, agar bisa memahami maksud dan tujuan mulia dari Sang Ilmu & Yang Maha Tahu, ketika suatu ayat Al-Qur’an di turunkan.
Kata “Akal” dari bahas Arab yaitu : عقل , يعقل, عقلا berarti ikat, mengikat dan ikatan (terikat). Sedangkan “Qolbu” juga dari bahasa Arab yaitu berasal dari Kata: قلبا , يقلبا , قلبا Artinya merubah (Bentuk, rupa dan rubah).
Secara Etimologi pengertian Akal dan Qolbu mengandung berbagai variasi makna. Salah satu makna, Kata “Akal dan Qolbu” bila yang dibubuhi dengan awalan : ال menjadi العقل dan القلب, berarti : Akal ini dan Qolbu ini, namun bila dirangkaikan (dimudlafkan) dengan kalimat lain akan menyesuaikan diri dengan makna kalimat yang disandarkan kepada makna sandarannya , Contoh Surat : عقل القران dan قلب القران Artinya : Akal (Rasio)nya Al-Qur’an dan Hati (inti)nya Al-Qur’an.
Baca juga :
Akal & Qolbu menurut Al Qur'an & Hadits
Akal menurut Al Qur'an & Hadits
Akal dalam Al-Qur’an berjumlah 482 kata dengan beraneka makna dan arti. Pada artikel ini kita mengambil 3 ayat sebagai contoh dari terjemahan & makna dari "akal" sebagai berikut :
1. Kata تَعْقِلُوْنَ berarti : berpikir, berjumlah 23 Ayat. sebagai contoh pada :
۞ اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu berpikir? QS. Al-Baqarah [2] : 44.
2. Kata عَقَلُوْهُ berarti : memahami, berjumlah 1 ayat yang ada pada :
۞ اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ كَلَامَ اللّٰهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهٗ مِنْۢ بَعْدِ مَا عَقَلُوْهُ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Maka, apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka agar percaya kepadamu, sedangkan segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui(-nya)? QS. Al-Baqarah [2] : 75.
3. Kata يَّعْقِلُوْنَ berarti : mengerti, jumlahnya 22 ayat, contohnya pada Surat Al-Jatsiyah : 5 sebagaimana berikut :
وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ رِّزْقٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ اٰيٰتٌ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
(Pada) pergantian malam dan siang serta rezeki yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupsuburkannya bumi (dengan air hujan) sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat (pula) tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti. QS Al Jatsiyah [45] : 5.
Qolbu menurut Al Qur'an & Hadits
وَاُحِيْطَ بِثَمَرِهٖ فَاَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلٰى مَآ اَنْفَقَ فِيْهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا وَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُشْرِكْ بِرَبِّيْٓ اَحَدًا
Harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya (tanda sangat menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedangkan pohon anggur roboh bersama penyangganya dan dia berkata, “Aduhai, seandainya saja dahulu aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku.” QS. Al-Kahf [18] : 42.
2. Kata قَلَّبُوْ berarti : mengatur, jumlahnya 1 Ayat yang terdapat pada :
لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوْا لَكَ الْاُمُوْرَ حَتّٰى جَاۤءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ اَمْرُ اللّٰهِ وَهُمْ كٰرِهُوْنَ
Sungguh, sebelum itu mereka benar-benar sudah berusaha membuat kekacauan dan mereka mengatur berbagai urusan (dengan berbagai tipu daya) untuk (mencelakakan)-mu, hingga datanglah kebenaran (berupa pertolongan Allah) dan menanglah urusan (agama) Allah, padahal mereka adalah orang-orang yang tidak menyukainya. QS. At-Taubah [9] : 48.
3. Kata تُقْلَبُوْنَ berarti : dikembalikan, berjumlah 1 ayat yang ada pada :
يُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَاِلَيْهِ تُقْلَبُوْنَ
Dia (Allah) akan mengazab siapa yang Dia kehendaki dan merahmati siapa yang Dia kehendaki. Kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. QS. Al-'Ankabut [29] : 21.
Baca juga :
Untuk mempermudah memahami, berikut diagram sisi terdalam pada diri seorang manusia yang harus kita ketahui :
Lebih detail :
Qolbu menurut Ilmu Tasawuf
Tasawuf memiliki makna kegiatan membersihkan qolbu dari yang mengganggu perasaan manusia, serta memadamkan kelemahan, menjauhi keinginan serta hawa nafsu, mendekati hal-hal yang di ridhoi Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, serta bergantung pada ilmu-ilmu hakikat.
Menurut Ulama Tasawuf seperti Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i, lebih kita kenal dengan nama Imam Al Ghazali, hakikat Manusia itu ada pada tajalli wahdaniyah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Maksudnya adalah : yang mampu mengerti tentang ke Esa-an Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى itu adalah qolbu. Qolbu merupakan titik halus yang bersifat rabbaniyah [mengatur/teratur]. Rabbani juga bisa diartikan sebagai titik alat rububiyah.
Tajalli adalah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyingkap diri-Nya kepada makhluk-Nya. Pembuktian atau Penyingkapan diri Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak pernah terjadi berulang kali secara sama dan tidak pernah berakhir. Penyingkapan diri Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى terjadi dengan cahaya batiniah yang masuk ke dalam hati umat.
Wahdaniyah adalah salah satu sifat wajib Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Wahdaniyah artinya yang Maha Esa. Sifat ini menunjukkan bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى hanya satu-satunya Tuhan.
Rububiyah adalah meyakini bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengendali alam semesta. Dia dapat menghidupkan dan mematikan dengan takdir-Nya serta dapat mengendalikan seluruh alam semesta dengan sunah-sunah-Nya.
Itulah alat yang akan memediasai antara manusia di alam nyata/fisik ini dengan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Yang Maha Bathin. Ruhaniyah sifatnya adalah tidak fisik, lawan kata dari jasmaniyah. Inilah yang membedakan Manusia dengan mahkuk-makhluk ciptaan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى lainnya, seperti : hewan. Mereka mempunyai otak, jantung , dan hati, tetapi mereka tidak mempunyai titik rabbaniyah dan ruhaniyah ini. Atau ketika Al Qur'an menyamakan manusia dengan hewan ternak bahkan juga hewan buas, berarti titik rabbaniyah dan ruhaniyah inilah yang telah mati di dalam qolbunya. نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ ذَالِكَ
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah,304) gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,
Catatan Kaki
Dimensi halus ini (atau Qolbu) terhubung dengan jantung manusia, ketika perasaan kita merasa : sedih, takut, gelisah, senang, was-was, dll maka jantung pun akan ikut berdebar lebih keras. Dialah si qolbu pada manusia ini yang mampu mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, dan qolbu pulalah yang diberi ilmu pengetahuan, dimana ketika pikiran dan khayalan manusia tidak mampu menembusnya, [otak : logika & rasio, membayangkan, berkhayal, pikiran manusia juga tidak akan pernah mampu membayangkan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى ], akan tetapi Qolbu mampu menembusnya, karena qolbu bisa merasakan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Inilah hakikat insan/manusia sesungguhnya. Dimana dalam ilmu Tasawuf hakikat insan itu ada pada : tajalli wahdah [Keesaan] & wahdaniyah [Yang Maha Esa] Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Qolbu ini jugalah yang diajak bicara/disapa oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pada ayat-ayat di dalam Al Qur'an.
Artikel terkait :
Jenis Nafs pada Manusia yang tidak mendapat Ridho-Nya [Siapakah aku ?]
Jenis Nafs pada Manusia yang tidak mendapat Ridho-Nya [Siapakah aku ?]
Ini yang membedakan konsep ketuhanan pada ajaran agama Islam dengan agama-agama yang lainnya. Ketauhidan dalam Islam sangat dijaga. Bagaimana memposisikan Tuhan sebagai Sang Pencipta, bagaimana posisi Utusan-Utusan-Nya, bagaimana posisi makhluk kepada Sang Pencipta dan Utusan-utusan-Nya, dll. Sebagai contoh, ketika Tuhan Semesta Alam ingin berkomunikasi dengan makhluk-Nya, Dia, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak harus mewujudkan diri sebagai makhluk-Nya. Dia Yang Maha Kuasa akan berkomunikasi kepada manusia melalui sisi spiritualnya, yaitu Qolbunya.
Kebenaran adalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Wallahu a’lam bishawab. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Rahmaan & Rahiim berkenan memberikan hidayah-Nya kepada kita, keturunan Nabiyullah Sayyidina Adam 'Alaihissalam. Aamiin Ya Rabbal'alamiin.
Semoga bemanfaat.