Post Top Ad

Setiap datangnya bulan Muharram, bermunculan berbagai amalan yang ramai dibicarakan diberbagai media sosial, seperti : grup WhatsApp, hingga ceramah di Langgar, Musholla, atau Masjid.



Amalan-amalan seperti do’a khusus menyambut tahun baru, amalan tertentu di malam satu Muharram, hingga ritual-ritual
yang diyakini dapat mendatangkan keberkahan sepanjang tahun. Namun, permasalahannya adalah tidak semua amalan tersebut memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an ataupun Hadits yang sahih.


Prinsip Fundamental Ibadah dalam Islam

Dalam kajian fiqih Islam, terdapat sebuah kaidah mendasar yang menjadi landasan utama: setiap bentuk ibadah pada dasarnya dilarang kecuali jika terdapat dalil yang secara eksplisit membolehkan atau memerintahkannya. Hal ini berbeda dengan aktivitas muamalah, yang secara prinsip diperbolehkan kecuali jika terdapat larangan yang jelas.


Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah  bersabda,


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718]

 

Dalam riwayat Imam Muslim, disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukanajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim, no.1718]



Amalan Muharram yang Sesuai dengan Dalil Shahih


Berikut ini adalah beberapa amalan yang memiliki landasan dalil yang jelas dan dapat dilakukan dengan keyakinan hati :

  • Muhasabah dan memperbarui niat – bukan sebagai ritual ibadah yang ditetapkan, tapi sebagai sikap hidup yang dianjurkan Islam secara umum.
  • Puasa Tasu’a tanggal 9 Muharram & Puasa Asyura 10 Muharram :
Puasa Tasu‘a dan ‘Asyura merupakan amalan sunnah yang memiliki keutamaan dalam Islam. Kedua puasa ini dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Mari kita telusuri dalil-dalil yang menjadi landasan disyariatkannya puasa ini serta makna yang terkandung di dalamnya.

Pertama, mari kita simak sabda Rasulullah  yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُوم يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُاللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ [متفق عليه]

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha., bahwa orang-orang Quraisy pada zaman Jahiliah biasa berpuasa pada hari ‘Asyura’. Kemudian Rasulullah  memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut hingga diwajibkannya puasa Ramadhan. Setelah itu, Rasulullah  bersabda, “Barang siapa yang ingin berpuasa pada hari ‘Asyura’, silakan berpuasa, dan barang siapa yang tidak ingin, silakan berbuka.” [Muttafaq ‘alaih].

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa ‘Asyura’ memiliki akar tradisi yang sudah dikenal sejak zaman Jahiliah, yang kemudian disyariatkan oleh Rasulullah  sebelum kewajiban puasa Ramadhan ditetapkan. Setelah Ramadhan menjadi puasa wajib, puasa ‘Asyura’ berubah menjadi sunnah, memberikan kebebasan kepada umat untuk memilih melaksanakannya atau tidak.


baca juga :


Keutamaan puasa sunnah di bulan Muharram

Terdapat banyak keutamaan puasa ‘Asyura’, hal tersebut semakin diperkuat oleh sabda Rasulullah ﷺ. Salah satu hadits telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu :


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهماُ قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى
غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي
شَهْرَ رَمَضَانَ [رواه البخاري]


“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah  membiasakan berpuasa pada suatu hari yang lebih diutamakan dari hari lainnya kecuali hari ini, yaitu hari ‘Asyura’, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.” [HR al-Bukhari].


Tidak hanya puasa ‘Asyura’, Rasulullah  juga menganjurkan puasa Tasu‘a, yaitu puasa pada hari kesembilan Muharram, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu :


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ
قَالَ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمَ
عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ
تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا
الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ [رواه مسلم وأبو داود]

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah  berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura’ adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.” Rasulullah  bersabda, “Kalau begitu, Insya Allah tahun depan kita berpuasa juga pada hari kesembilan.” Namun, sebelum tahun depan tiba, Rasulullah   telah wafat. [HR Muslim dan Abu Dawud].

Dalam riwayat lain, Rasulullah  bersabda:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ
لأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ [رواه أحمد و مسلم]

“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan, yaitu hari ‘Asyura’.” [HR Ahmad dan Muslim].


Berdoa kepada Allah dengan doa umum – tidak ada doa khusus yang ditetapkan, tapi berdoa dengan kalimat yang baik dan permohonan yang tulus selalu dianjurkan kapan saja.

Demikian sahabat-sahabatku. Semoga bermanfaat. Marilah kita perbaiki niat, bahwa ibadah yang kita lakukan bukan hanya semata-mata karena keberadaan : Surga & Neraka keberadaan : Surga & Neraka,bukan pula semata-semata karena diciptakan-Nya: Pahala & Dosa. Tapi semata-mata mengharapkan Ridha-Nya.

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Pemurah memudahkan kita mengerjakan kebaikan dan beramal shalih.

Related Posts

Post Bottom Ad